Prestasi yang diraih anak di sekolah, biasanya menjadi ukuran bagi orang tua menjulukinya anaknya sebagai anak yang cerdas. Prestasi sekolah pula yang akan menentukan langkah anak selanjutnya dalam mendapatkan sekolah lanjutan yang diinginkan (favorit). Sayangnya, ukuran tersebut sering mengecewakan. Terutama pada orangtua yang buah hatinya punya kemampuan, tapi prestasi sekolahnya rendah.

Underachiever adalah anak yang berprestasi rendah dibandingkan dengan tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Untuk itu, orang tua harus mengetahui penyebab underachiever agar bisa mengambil tindakan yang tepat.

Sekolah, kata psikolog Edy Gustian, penulis buku Menangani Anak Underachiever, merupakan faktor yang sangat berperan dalam menyebabkan terjadinya underachiever. Seperti cara pengajaran, materi-materi yang diberikan, ukuran-ukuran keberhasilan dan kemampuan guru. Tak percaya?

Albert Einstein, salah satu buktinya. Bagaimana sekolah dapat menjadikan anak jenius seperti dia menjadi underachiever? Saat di sekolah dasar, nilai-nilai Einstein sangat buruk hingga ia disebut anak bodoh. Penyebabnya ternyata, karena Einstein harus mengulang hal-hal yang sudah diketahuinya, yang menurutnya tidak bermanfaat. Einstein baru berhasil menangani masalahnya dengan bantuan pamannya.

Anak cerdas cenderung menjadi anak yang nakal jika berada di kelas yang dianggapnya tidak memberikan tantangan. Ia akan mempunyai banyak waktu untuk memikirkan kejailan-kejailan untuk menghilangkan kebosanan. Faktor teman-teman sekelas juga turut berpengaruh. Anak cerdas yang berada dalam kelas rata-rata akan mengalami hambatan untuk berprestasi. Anak akan merasa diperlakukan sebagai orang bodoh saat guru menerangkan hal-hal yang dirasakan anak tidak perlu dijelaskan lagi.

Faktor Lingkungan

Selain sekolah, lingkungan rumah juga menjadi penyebab anak underachiever. Peran

orang tua sangat menentukan keberhasilan mereka. Orangtua yang menunjukkan perhatian, dukungan, kesiapan untuk membantu anak, dapat memotivasi anak berhasil di sekolah.
Anak dapat berperstasi atau tidak, kata Edy, juga sangat dipengaruhi oleh sikap orangtua dalam menilai arti penting prestasi sekolah. Orang tua yang kurang menghargai prestasi sekolah tidak akan mendorong anak untuk mencapai hasil yang baik di sekolah. Tetapi, bila orang tua terlalu menuntut anak berprestasi tinggi, juga membuat anak tertekan, tidak bahagia dan ini akan menghambat anak menyerap pelajaran di sekolah.

Hubungan ayah dan ibu juga mempengaruhi anak dalam berprestasi. "Orang tua yang sering bertengkar dapat menjadikan anak tidak konsentrasi belajar karena merasa tidak nyaman dan tertekan. Pertengkaran orang tua bisa membuat anak stres," papar lulusan Psikologi UI ini. Belum lagi, jika ditambah suasana rumah yang sumpek dan bising. Untuk dapat belajar, anak butuh suasana yang nyaman dan tenang.

Karena Diri Anak Sendiri
Berprestasi atau tidak juga dipengaruhi karakteristik anak. Salah satunya penilaian anak terhadap kemampuan yang dimilikinya. Anak yang merasa dirinya mampu, akan berusaha untuk mendapatkan prestasi sekolah yang baik sesuai dengan penilaian terhadap kemampuannya. Misalnya, Adi selalu mendapat pujian dari temannya karena jago berhitung. Maka saat mendapat soal yang sulit, ia akan mati-matian memecahkannya. Sebaliknya, anak yang memiliki persepsi atau harga diri yang rendah tidak termotivasi untuk berprestasi tinggi.

Faktor lain dalam diri anak adalah, anak yang memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk berprestasi, tapi ada juga yang tidak. "Dorongan ini bisa berasal dari dalam diri anak, bisa pula dari luar. Misalnya, orangtua selalu memberi hadiah pada saat anak meraih prestasi yang baik, tak perduli ranking satu atau ranking 10."

Jadi, agar anak cerdas tak menjadi underachiever, kata Edy dan juga ditegaskan Sri, jangan hanya menuntut anak berprestasi saja, tapi memenuhi prasyarat lainnya, seperti menyediakan lingkungan rumah yang nyaman buat anak belajar, mengusahakan lingkungan sekolah disenangi anak, serta memotivasi anak untuk berkeinginan memiliki prestasi. "Kalau itu semua dilakukan, prestasinya akan menyusul, dan kecerdasannya makin terasah," tegasSri Hartati.

Menangani Anak Underachiever!

  1. Ikutkan anak tes kecerdasan, atau jika tak memungkinkan lakukan pengamatan terhadap anak. Caranya, buat catatan harian mengenai mereka. Catat usia mulai berbicara, atau kapan ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan catat minat mereka.
  2. Kenali sikap dan tingkah laku mereka. Tahukah Anda, kapan anak menjalani tes, si kecil menyelesaikan PR atau tidak?
  3. Cermati guru dan lingkungan sekolah anak. Jika Anda sudah melakukan perbaikan-perbaikan atas dirinya, berikutnya menjalin hubungan denga guru, dan mencari tahu apakah lingkungan sekolah mendukung proses belajar anak atau tidak. Perhatikan faktor-faktor seperti kemampuan guru, hubungan guru dan murid, hubungan anak dengan anak didik lainnya.
  4. Tingkatkan motivasi anak. Jika anak mengalami kesukaran maka orang tua harus membantunya. Jika pelajaran dinilai mudah bagi anak, mintalah guru untuk memberi pelajaran yang lebih menantang.
  5. Anak memiliki konsep diri yang benar. Anak akan menilai dirinya pintar jika ia mendapat penilaian demikian dari lingkungannya, demikian pula sebaliknya. Berikan rasa kebanggan pada diri anak dengan memberikan tugas-tugas yang dapat diselesaikan olehnya.
  6. Menjadikan anak memiliki fokus kontrol internal. Yakni, menempatkan faktor dalam diri anak sebagai penyebab kejadian. Misalnya, kalau terantuk meja, orang tua biasa menyuruh anak mengetok meja karena meja yang salah. Bukannya mengingatkan anak berhati-hati.
  7. Pola belajar yang benar. Ajarkan kepada anak cara menguasai materi. (bk)

http://minmalangsatu.net/detail-artikel-128/ANAK_CERDAS___MENGAPA_PRESTASI_DI_SEKOLAH_RENDAH.html

Jumat, 06 Mei 2011 Posted in | | 0 Comments »

One Responses to "UNDERACHIEVER"

Write a comment